Senin, 27 Januari 2014

Dua Sisi Heri Latief

semakin lama jadi orang asing,
sampai dia lupa pulang.
padahal, dingin makin menggigit tulang
apa yang dicari selama ini?
merantau, untuk melupakan jalan pulang?
—Jalan Pulang
by : Heri Latief

semakin lama aku mengasingkan diri,
sampai aku lupa pulang
padahal, panas menusuk-nusuk kulit
apa yang ku cari selama ini?
merantau, untuk melupakan jalan pulang?

Rabu, 15 Januari 2014

Gadis belia sedang berkaca

Gadis belia sedang berkaca
Ia lupa itu muka siapa
Semu kusam tak bercahaya
Seperti kehilangan masa muda
Banyak tangis tepaksa tertawa
Anak muda di rundung pilu
Tiga hari hujan di ibukota
Senandung rintihan air
Bak tumpah dari bak 

Sedangkan ia masih sering bertanya
Apa ia sudah siap hidup?
Sementara keraguan dan kewaspadaan
Menembakkan peluru tanpa pandang bulu

Semua pergi
Ia sendiri
Kalau boleh semua muanya saja pergi
Ia ingin pulang
Berselimut rapat menutup telinga dengan bantal
Sendiri , sendiri, sendiri

Ia telah lupa cara berbahagia
Ia lupa suara hujan
Ia lupa rasa angin
ia lupa rupa manusia yang ceria



Tuhan, apa aku sudah mati?
atau aku tersesat di belantara kehidupan?

Minggu, 03 November 2013

4 November

Kau terlampau matang memahami bagaimana keras kepalanya aku perihal bertahan, menunggu dan meneruskan lika-liku hidup bersamamu. Barangkali aku egois, namun apa salahnya memperjuangkan? daripada aku hanya bisa menjadi wanita pembohong yang sedang menyembunyikan tangis dan amarah di balik semak-semak kesesakan dada tak rela . 

Hari ini tanggal 4 november 2013. Jauh lebih sangat baik ketimbang 4 November 2012. Pada catatan tentang 4 November 2010, tertulis cerita indah dengan ceria perihal perjumpaan. Pada 4 November 2011, ada bilik-bilik berisi aura rindu mencekam sebab kita berada diseutas jarak. Catatan terakhir, 4 November 2012 aku sibuk menulis kisah dengan tinta air mata yang meraung-raung tak berdaya.   

4 November 2013.  Setelah kesunyian beranak kemudian memecah belah sedari kepenatan beranjak keributan, membiaskan nyeri-nyeri pikiran dan hati. Aku memaklumi alur Tuhan di setiap naskahnya. Diatas kesedihan, rasanya ribuan tahun aku berdiri di titik bawah lingkaran. Diatas kekaguman dan kejatuhan hatian, berdiri di titik teratas kehidupan serasa sekejap mata. 

Nyatanya, kita sudah bukan remaja lagi, Ardian. 
Selamat 4 November ke 4.  

Senin, 09 September 2013

apa kalian tau?

kalian tau, apa yang saya lakukan ketika kantor hening?
saya mendengarkan musik
kalian tau, apa yang saya lakukan ketika bos marah?
saya menahan tawa
kalian tau, apa yang saya lakukan ketika mengantuk?
saya ke kamar mandi, saya tidur sejenak disana
kalian tau, apa yang saya lakukan ketika saya menganggur?
saya membuat tulisan ini

Rabu, 04 September 2013

Ardian terluka

ada rasa ngilu yang terus menghantuinya
tulang keras, mungil dan kecil
berwarna putih terususun rapi
berakar didalam gusi
berbentuk seperti tumpulnya gergaji

ulat-ulat nakal
menggerogotinya dengan lahap
tanpa mengendap-endap
mereka serang mesin penghancur makanan

kasihan, Ardian
ingin makan, namun sakit tak tertahan
tak mau biarkan perut kelaparan
ia sedang sakit gigi
separuh gusi dibalut perih
luka dalam membuatnya hanya bisa diam
barangkali Ardian lupa menyikat gigi,
sebelum tidur

Selasa, 03 September 2013

September


September bulan ke sembilan
Ibu dan anak tidur beralaskan dahan
Hidup seadanya asal bisa makan

September bulan ke sembilan
di sebuah keranjang,
Kucing tidur dengan tenang
Makan minum dengan senang
Tak seperti para kucing jalanan

September bulan ke sembilan
Sembilu memilukan
Tak banyak yang bisa dirubah
Koruptor pun masih merajalela

September bulan kesembilan
diujung kota, 
Wanita belia tengah asik bermain jemari diatas keyboard
Berusaha mencari nafkah untuk diri sendiri dan orangtua


September bulan ke sembilan
Ada cerita disetiap september 
Ada derita disetiap september
Selamat menikmati September 2013

Senin, 02 September 2013

Permaisuri


suatu hari ia akan pergi
menuju negeri dimana ia tak sendiri
dilepas ibu dan ayah
diberikan ia kepada pria muda

iringan tembang
kembang
dan mayang
pengganti oksigen siang malam
tak lama lagi ia menjadi bini

wajahnya tak lagi pucat pasi
beberapa warna lukisan di mata ,bibir dan pipi
beberapa pernak-pernik pada busana yang ia kenakan hari ini
beberapa bunga di atas kerudung yang melingkari
nampak molek menghiasi diri

berat langkah ia tinggal status bujang
gemetar tangan dingin 
memadukan suasana tegang
berulang kali nafas panjang ia lakukan agar tenang

seorang bapak memulai basmalah
berjabat tangan dengan pria didepannya
belum sempat lafal ikrar terucap
semua berubah


Tuhan, terimakasih 
meskipun ini hanya
sebatas mimpi